Mie Soden Malang

Photo by : https://kuliner.radarmalang.id/menikmati-mie-soden-di-ketinggian-kota-batu/

Mie Soden namanya. Tidak hanya letaknya di ketinggian 1.100 mdpl (meter di atas permukaan laut) yang membuat mi ini istimewa. Tapi, juga olahan si pemilik warung, yakni Syamsudin. Mie Soden yang berada di Jalan Raya Selecta Nomor 1, Kota Batu (di sebelah gerbang Selecta), ini namanya diambil dari nama Syamsudin, yang diplesetkan menjadi nama Soden.

Sekilas, mi itu tidak jauh berbeda dengan mi instan pada umumnya. Tapi, racikan khas Syamsudin membuat rasa ini berbeda. Dalam meracik mi instan, Syamsudin memasak langsung 16 bungkus.

Lalu, dia menyiapkan wajan besar. Di sebelah wajan sudah ada panci berisi air yang mendidih. Selanjutnya, dia akan memindahkan air yang dididihkan di panci ke dalam wajan.

Kemudian, Syamsudin membuka bungkus-bungkus mi instan itu. Nah, jika mie kuah, dia akan menambahkan air sedikit lebih banyak di wajan tersebut. Dia juga akan menambahkan sedikit garam ke panci itu.

Syamsudin kemudian mengocok satu telur, lalu dimasukkan ke dalam panci berisi air mendidih itu.
Bumbu-bumbu dalam bungkus Indomie itu kemudian dia ambil. Dia gunting semua dan dimasukkan ke dalam wajan berisi air mendidih. Setelah beberapa saat, mi-mi itu dimasukkan ke dalam wajan berisi bumbu-bumbu itu. Ditunggu matang, kemudian ditiriskan. Dalam memasak mi, untuk pemesanan mi goreng maupun yang berkuah, Syamsudin sama-sama memakai Indomie goreng.

Menurut Syamsudin, warung Mie Soden ini dibuka 14 tahun yang lalu, tepatnya pada 2003. Menurut dia, saking ramainya, dalam sehari dia menghabiskan 160 Indomie. Harganya satu porsi cukup murah, yakni sekitar Rp 5.000.

”Kalau jumlah pengunjung saya tidak pernah menghitung,” kata pria kelahiran Malang, 22 Juli 1982, itu sambil memasak.

Dulunya, sebelum menggunakan Indomie, Syamsudin menggunakan Mie Sarimi besar goreng. ”Dulu waktu awal membuka warung, saya masak pakai Mie Sarimi. Sarimi ini rasanya lebih enak. Hanya, orang tidak tahu cara memasaknya. Kebanyakan mereka menggunakan semua bumbu. Padahal, bumbu Sarimi amat kuat, jadi saya kalau masak mengurangi bumbunya,” ujar Syamsudin.

Namun, karena produk Sarimi ini tidak laku, produksi Sarimi dihentikan. Jadi, Syamsudin beralih ke Indomie. Padahal, menurut dia, rasanya lebih enak Sarimi. Namun, kalau saat ini, mi yang paling cocok di antara semua mi ya Indomie.

Sementara itu, dari pantauan koran ini Selasa lalu (27/12), pengunjung yang datang ke tempat ini harus rela antre setengah hingga satu jam. Mereka juga rela duduk di emperan warung karena tempatnya cukup sederhana. Yakni, luasnya sekitar 6–7 meter. Warungnya terbuat dari anyaman bambu.

”Meskipun nunggunya lama, tapi sambil kumpul bareng teman-teman, jadi tidak terasa nunggu Mie Soden,” kata Destian Rendra Pratama, salah seorang pengunjung.

Sumber : https://kuliner.radarmalang.id/menikmati-mie-soden-di-ketinggian-kota-batu/

Gulai Tikungan

Photo by : https://pergikuliner.com/restaurants/jakarta/gulai-tikungan-blok-m-blok-m

Jakarta memang kaya akan wisata kuliner. Mulai dari restoran sampai pinggir jalan, banyak makanan enak yang dijajakan. Salah satu kawasan yang patut Anda kunjungi ketika berwisata kuliner adalah Blok M, Jakarta Selatan.

Di perempatan Jalan Mahakam dan Jalan Bulungan terdapat sebuah tempat kuliner yang amat tersohor sejak dulu, yaitu gultik. Gultik merupakan singkatan dari gulai tikungan. Dinamakan gulai tikungan karena banyak pedagang gulai yang mangkal di tikungan jalan tersebut.

Ada sekitar 15 pedagang gulai di kawasan belakang Blok M Plaza tersebut. Beberapa dari mereka sudah berjualan sejak puluhan tahun lalu. Rata-rata rasa dari gulai yang mereka jajakan pun tidak jauh berbeda.

Walaupun tergolong kuliner kaki lima, gultik selalu ramai pengunjung. Mulai yang bermobil sampai pejalan kaki pun pernah makan di sini. Sejak tahun 1980-an banyak masyarakat yang menjadikan gulai tikungan ini sebagai destinasi kuliner favorit mereka.

“Dari tahun dulu sampai sekarang ramai terus,” kata Bambang, salah satu pedagang gultik. Bambang bisa menghabiskan 100 porsi gultik setiap harinya. Saat akhir pekan tiba, ia bahkan bisa menghabiskan sampai 200 porsi gultik.

Yang menjadikan gultik ini selalu ramai adalah rasa dari gulai itu sendiri. Gulai yang dijual di kawasan ini merupakan gulai sapi. Pedagang menggunakan beberapa bagian sapi seperti urat, tetelan, lemak, hingga jeroan. Gulai dengan kuah santan yang tidak begitu kental dan rasanya yang gurih disiramkan diatas sepiring nasi, ditambah taburan bawang goreng, kecap, dan kerupuk.  Untuk Anda yang menyukai pedas, Anda bisa meminta sambal pada pedagang.

Rasanya memang sederhana namun tetap menggugah selera. Gurihnya gulai dipadu dengan manisnya kecap dan pedasnya sambal cukup untuk membuat ketagihan. Tapi, untuk Anda yang biasa makan banyak, seporsi gultik pasti kurang untuk memanjakan perut Anda. Jangan khawatir, Anda bisa nambah sepuasnya tanpa takut kantong jebol karena harga seporsi gulai ini dibanderol hanya dengan harga Rp 8.000.

Sumber : https://travel.kompas.com/read/2013/09/10/0815279/Gulai.Tikungan.Kuliner.Kaki.Lima.Ternama

Wisata Kuliner Pasar Lama Tangerang

Photo by : https://www.liputan6.com/lifestyle/read/3687478/kuliner-malam-jumat-menikmati-aneka-jajanan-jadul-hingga-kekinian-di-pasar-lama-tangerang

Banyak kota memiliki pusat jajanan tersendiri. Di Tangerang, Banten, pusat jajanan tersebut terletak di kawasan Pasar Lama. Seperti namanya, di kawasan ini juga terdapat pasar yang aktif pada pagi-siang hari.

Di malam hari, kawasan ini seakan disulap menjadi pusat kuliner dengan aneka ragam jajanan. Jalanan dipenuhi oleh lapak dan tenda pedagang serta pembeli yang hilir mudik.

Hal ini membuat banyak orang terpikat mengunjungi Pasar Lama. Berikut adalah tips untuk mengunjungi Pasar Lama Tangerang :

1. Kunjungi pada akhir pekan

Meskipun kawasan Pasar Lama bakal semakin padat di akhir pekan, namun jenis kuliner yang tersedia pun semakin kaya pada hari Sabtu dan Minggu.

Beberapa penjaja makanan yang unik dan langka seperti gado-gado penganten atau ikan ceng cuan hanya akan muncul di akhir pekan.

2. Parkir sebelum masuk kawasan Pasar Lama

Tidak banyak kantung parkir yang tersedia di kawasan ini. Oleh sebab itu, Anda yang berencana mengendarai mobil sebaiknya datang sebelum gelap.

Anda dapat memarkirkan mobil di dekat menara jam jelang Jl. Kisamaun, tepatnya di depan kompleks berpagar ungu. Dari sana, Anda tinggal berjalan kaki atau menaiki becak menuju kawasan Pasar Lama.

Jika tidak mendapatkan parkir ketika hari telah gelap, Anda akan terjebak di kemacetan yang cukup parah karena jalanan akan termakan oleh lapak dan tenda pedagang serta dijejali pejalan kaki.

Andai beruntung, Anda dapat memarkirkan mobil di celah antara lapak dan tenda pedagang. Kalau tidak, bersiaplah kecewa karena di Jl. Kisamaun diberlakukan sistem satu arah.

Hal yang satu ini mustahil Anda lewatkan, mengingat wisata kulinerlah daya tarik utama Pasar Lama. Berbagai jenis asupan ada di sini, mulai dari kudapan, aneka jenis es, makanan berat, sampai santapan ekstrem seperti sate ular dan biawak.

Beberapa di antara jajanan tersebut terhitung legendaris karena usianya, sebut saja Es Podeng Varia, Es Bun Tin, Laksa Benteng, dan Sate H. Ishak.

Jumlah penjaja kuliner di Pasar Lama akan membeludak ketika memasuki malam hari. Tenda dan lapak-lapak yang dipenuhi pelanggan bakal memakan lebih dari separuh badan jalan.

4. Membawa kamera

Kawasan Pasar Lama ibarat jantung yang senantiasa berdenyut. Kesibukan di kawasan ini pun bermacam-macam, mulai dari transaksi di pasar, becak yang hilir-mudik, serta jemaat yang mengunjungi Klenteng.

Momen ini cocok bagi Anda yang menggemari street photography. Upayakan membawa kamera yang mudah dibawa ke mana-mana dan tidak mengganggu orang lain.

5. Menumpang becak

Becak menjadi salah satu moda transportasi yang mudah Anda temui. Terlebih bagi warga Jakarta, moda yang satu ini tentu mengundang nostalgia.

Tarif menumpang becak di kawasan ini berkisar antara Rp 10-20 ribu, tergantung jarak yang ditempuh. Anda dapat berbincang-bincang dengan pengemudi becak yang beberapa di antaranya merupakan keturunan Tionghoa Benteng, mengenai kehidupan etnis tersebut di Tangerang.

6. Sedia pakaian yang nyaman

Suhu di Kota Tangerang terbilang panas ketika terik. Keadaan ini cukup membuat Anda mudah berkeringat. Selain itu, kawasannya yang terbuka tanpa satu pun pohon membuatnya minim tempat berteduh ketika hujan turun.

Gunakanlah pakaian yang nyaman untuk menjelajahi kawasan ini. Ada baiknya, kenakan topi dan sediakan payung untuk mengantisipasi terik dan hujan yang mungkin datang.

7. Sambangi Museum Benteng Heritage

Museum ini buka pada Selasa-Minggu dengan waktu operasional pukul 10.00-17.00. Untuk menuju ke sana, pilihlah gang kecil di sisi kanan depan menara jam. Museum Benteng Heritage memang terletak di tepi gang pasar yang sempit.

Museum ini telah direstorasi kembali ke bentuk asalnya yang menyerupai rumah China. Di dalamnya, tersimpan berbagai koleksi budaya Tionghoa dan Peranakan yang sulit ditemui di tempat lain.

8. Berburu oleh-oleh khas

Kawasan Tangerang terbilang banyak dihuni oleh penduduk keturunan Tionghoa Benteng sejak lama. Akibatnya, di kota ini juga terdapat beberapa sentra produksi makanan khas Tionghoa.

Kecap menjadi salah satu oleh-oleh khas yang dapat Anda bawa pulang dari sini. Dua kecap legendaris, Kecap Benteng dan Kecap SH bisa Anda temukan di kawasan ini.

Selain itu, terdapat pula sentra produksi dodol dan kue keranjang yang produknya bakal Anda dapati dengan mudah di Pasar Lama.

Sumber : https://travel.kompas.com/read/2019/01/31/130900927/8-tips-mengunjungi-pasar-lama-tangerang?page=all